ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dan interaksi simbolik mengenai tato di kalangan penggunanya. Fokus penelitian ini adalah fenomena tato meliputi perkembangan, motivasi dan proses penatoan, pemaknaan simbolik dan pengelolaan kesan yang dilakukan dalam komunikasi di kalangan pengguna tato di kota Bandung. Informan penelitian adalah pengguna tato permanen dengan jumlah sebanyak 24 informan, penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengguna tato dapat dikategorikan berdasarkan: Alasan, pengguna tato imanen dan pengguna tato kontak; Motif, pengguna tato dengan orientasi masa lalu dan pengguna tato berorientasi masa datang; Desain, Pengguna tato klasik, pengguna tato modern dan pengguna tato kontemporer; Segi penempatan tato, pengguna tato terbuka dan tertutup; Pemilihan studio, pengguna tato aman dan pengguna tato berisiko.Sedangkan seniman tato dapat di kategorikan sebagai berikut : Lama menjalani profesi, seniman tato masa lalu dan masa kini; Peralatan yang digunakan, seniman tato tradisional dan seniman tato modern; Proses Penatoan, seniman tato aman dan seniman tato berisiko; Keahlian, seniman tato otodidak dan belajar khusus; Tempat penatoan, seniman tato profesional dan seniman tato kaki lima.

Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam sebuah proses penatoan, hubungan antarpribadi antara seniman tato dengan pengguna tato sangat penting untuk menghasilkan tato yang sesuai dengan keinginan, disamping keahlian dan kreativitas seniman tatonya serta ketersediaan alat yang menunjang unsur kesehatan. Komunikasi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti penerimaan keluarga, teman dan masyarakat, keanggotaan kita dalam kelompok tertentu, konsep diri, peran yang dijalani serta bagaimana memaknai hubungan antara pengguna tato.

Pengeloalan kesan dilakukan ketika pengguna tato berinteraksi dengan keluarga atau anggota masyarakat yang belum dapat menerima penggunaan tato dan masih menganggap negatif orang yang menggunakan tato. Pengelolaan kesan ini dapat dilakukan dengan penampilan, misalkan menutupi tato agar tidak terlihat langsung oleh orang lain atau dengan bertingkah laku sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat.